Home Kriminal Anggap Penggusuran Sebagai Pengusiran, Proyek Jalan Tol Cibitung-Cilincing Kembali di Soal Warga...

Anggap Penggusuran Sebagai Pengusiran, Proyek Jalan Tol Cibitung-Cilincing Kembali di Soal Warga Tarumajaya.

1583
0
SHARE

Tarumajaya, harianumumsinarpagi.com– Puluhan Masyarakat Desa Pantai Makmur Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi, lakukan aksi bentang spanduk berisi penolakan ganti rugi terkait rencana pembangunan jalan tol Cibitung – Cilincing yang dinilai sangat merugikan Warga terdampak, pekan lalu.

Dari awal sosialisasi pertama di tahun 2012, harga yang ditawarkan pada saat itu 2,6jt per M2. Dan pada pertemuan kedua ditahun 2017 harga lahan kami di hargai 3jt per M2. Itu sudah tertera di dalam amplop sehingga tidak ada nilai tawar dan musyawarah seperti yang dijanjikan saat awal sosialisasi pertama.” Ujar Sudirman (62) salah satu warga Desa Pantai Makmur merasa terusir.

“Padahal harga pasaran disini sudah berkisar antara 5 sampai 6 juta per meternya” tegas Zainudin (60) warga yang sama saat menimpali pernyataan Sudirman.

Sementara Didin, pemilik salah satu toko mebel di jalan tanah baru, Pantai Makmur menilai Tim Appraisal ngawur dan tidak pernah memberi kesempatan kepada masyarakat untuk bermusyawarah masalah harga tanah.

” Jelas warga merasa dirugikan, kami memiliki NJOP lebih tinggi dari Desa Segarajaya namun di hargai sangat rendah, untuk tanah yang berada di dalam hanya di hargai 600rb, padahal di pasaran bisa mencapai 2-3jutaan, sedangkan yang berada di pinggir jalan bisa mencapai 5 jutaan per meternya.” Terang didin dengan nada kesal.

Kepala Urusan pemerintahan Desa Pantai Makmur, Namit saat dikonfirmasi penolakan warga terhadap aksi penolakan nilai ganti rugi merasa tak paham dengan tim appraisal yang menilai sangat murah pasaran tanah disini.

” Jelasnya Desa sangat membantu dan mendukung aksi penolakan tersebut, bahkan kita juga pernah mengembalikan amplop dari 24 bidang milik warga berisikan nilai harga ganti rugi ke Pak Agus dari BPN” Jelas Namit kepada harianumumsinarpagi.com di kantor Desa Pantai Makmur

Di tempat terpisah, Kepala Desa Segara Makmur H Agus Sofyan ikut mempertanyakan dasar tim appraisal dalam menilai harga tanah yang menurutnya kurang layak

“secara geografis letak Desa Segara Makmur dan Pantai makmur merupakan pintu gerbangnya DKI, secara bisnis letaknya juga dekat dengan perindustrian dan pergudangan bahkan NJOP juga jauh lebih tinggi ketimbang Desa Segarajaya, Namun nyatanya Segara Makmur dan Pantai Makmur justru di hargai lebih murah, ini ada apa?” Ucap Kepala Desa yang juga merangkap sebagai Ketua Apdesi Kabupaten Bekasi di ruang kerjanya.

Ditegaskan pula bahwa dirinya tidak menolak terhadap rencana pembangunan jalan tol Cibitung-Cilincing, hanya saja berharap agar pemetintah adil dan bijaksana dalam menilai harga tanah agar masyarakat tidak merasa dirugikan.

Hal senada diutarakan Kepala Desa Segarajaya H. Marjaya Sargan yang turut mendukung aksi warga Desa Segara Makmur dan Desa Pantai Makmur menuntut adanya kelayakan dalam membebaskan lahan yang tergusur.

“Sebagai Masyarakat tentunya saya juga akan mengeluh bila harga yang ditentukan oleh appraisal begitu rendah, saya serahkan tim appraisal untuk menjelaskan kepada Masyarakat.” Tandasnya.

Dari pantauan harianumumsinarpagi.com umumnya Masyarakat tetap akan bertahan dan menolak bila harga yang ditentukan tim appraisal justru merugikan. Dari informasi yang didapat, untuk NJOP tanah/sawah di Desa Pantai Makmur dan Desa Segaramakmur yang jumlahnya Rp 285.000 di hargai Rp. 600.000/M2 sedangkan harga tanah / sawah di Desa Segara Jaya bisa mencapai Rp 1.500.000 sementara NJOP nya hanya Rp.65.000.*tahar